Senin, 13 Juli 2015

Motivasi Sang Pendaki.







Salam Rimba...          
Salam Lestari...   

Sekilas tentang hidup sang petuang Mengabaikan Suara Hati Kecil Dan Lembut
Ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam perlengkapan pendakian  yang tampak memenuhi badanny.Kini, di hadapannya ada sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup pepohonan dan awan putih., membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan berbatu dan berakar yang terbentang di hadapannya.
Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi tebing yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada longsor yang datang tanpa disangka. Longsoran itu tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah tanah  yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. Ia tak tahu dimana ia berada.Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. “Potong tali itu…. potong tali itu.”Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh bongkahan yang tersangkut di bawahnya ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa…Apa yang terjadi????Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak mengeras,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....Suara hati kita begitu lembut, sehingga mudah untuk mengabaikannya..
tetapi juga begitu jelas sehingga tidak mungkin keliru..  #created by Sarkang

Hijau..
Tetap Lestari...

Kamis, 09 Juli 2015

Travelling

Travel A LOT.
Into The Wild in hobby


Mountains are not fair or unfair - they are just dangerous.
(Gunung bukannya adil atau tidak adil - hanya berbahaya saja)











There can be no happiness if the things we believe in are different from the things we do
"Tidak ada kebahagiaan jika hal yang kita percaya berbeda dari hal-hal yang kita lakukan"
-Freya Stark







Tidak perlu menjadi pahlawan yang hebat untuk melakukan suatu hal, untuk bersaing anda hanya mendapat piala biasa. Cukuplah dengan motivasi untuk tujuan yang menantang -- Sir Edmund Hillary